BATAM – Dewan Pengurus Pusat (DPP) Perkumpulan Kekerabatan Sulawesi Selatan (PKSS) menggelar Dialog Wawasan Kebangsaan dengan mengangkat tema “Perkuat Wawasan Kebangsaan dalam Menjaga Karakter Anak Bangsa.”
Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi untuk memperkuat pemahaman mengenai wawasan kebangsaan, khususnya di kalangan generasi muda. Dialog ini juga menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya menjaga karakter, rasa cinta tanah air, serta kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia di tengah perkembangan zaman.
Sejumlah tokoh hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, yakni Prof. Dr. HM Soerya Respationo, SH, MH, MM; Irjen Pol. (Purn.) Drs. Yan Fitri Halimansyah, MH; YM. Raja Haji Muhamad Amin Ibni Raja Haji Muhamad; Ir. Bambang Hendrawan, ST, M.SM, CIPMP, CISCP; serta H. Masrur Amin, SH, MH.
Kegiatan ini turut mendapat perhatian dari Politeknik Negeri Batam (Polibatam). Direktur Politeknik Negeri Batam menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini, khususnya dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman.
Menurutnya, penguatan wawasan kebangsaan menjadi hal yang penting karena generasi muda memiliki potensi besar untuk berkontribusi bagi bangsa dan negara.
“Temanya cukup relevan sebenarnya, menjawab kegelisahan mungkin para orang tua kita juga, terkait dengan bagaimana terus mengembangkan wawasan kebangsaan, menjaga karakter anak bangsa,” ujarnya.
Ia menambahkan, Politeknik Negeri Batam juga memandang penting upaya memperkuat wawasan kebangsaan di kalangan mahasiswa. Nilai-nilai kebangsaan, menurutnya, tidak hanya dapat disampaikan melalui mata kuliah khusus, tetapi juga dapat diterapkan dalam berbagai proses pembelajaran.
Salah satunya melalui konsep project based learning, di mana mahasiswa terlibat langsung dalam kegiatan dan aktivitas yang bersentuhan dengan masyarakat.
“Secara materi mata kuliahnya mungkin berkurang, tetapi secara nilai-nilai itu sebenarnya bisa dikembangkan di seluruh mata kuliah. Kalau di kita kan kita sebut namanya project based learning,” jelasnya.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga belajar bekerja dalam tim serta berinteraksi langsung dengan masyarakat. Nilai-nilai kebangsaan pun diharapkan tetap dapat ditanamkan dalam proses tersebut.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti fenomena generasi muda Indonesia yang melanjutkan pendidikan maupun berkarier di luar negeri. Menurutnya, keberadaan anak bangsa di luar negeri tidak selalu harus dipandang negatif karena dapat menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan memperoleh pengalaman dari negara lain.
“Di luar sana pun ada peluang-peluang yang baik buat anak-anak bangsa kita untuk bisa menunjukkan kemampuan mereka,” katanya.
Namun demikian, ia menekankan pentingnya menjaga rasa cinta terhadap Indonesia agar ilmu, pengalaman, dan kemampuan yang diperoleh di luar negeri nantinya dapat memberikan manfaat bagi kemajuan bangsa.
“Bagaimana kita bisa menjaga supaya mereka tetap cinta dan tetap kembali ke Indonesia pada saat nanti mereka dibutuhkan,” ujarnya.
Ia berharap dialog mengenai wawasan kebangsaan tidak berhenti pada kegiatan tersebut. Menurutnya, tema-tema serupa dapat terus dikembangkan melalui seminar, diskusi, maupun forum intelektual yang melibatkan mahasiswa.
“Saya pikir tema-tema seperti ini bisa dilanjutkan lewat kegiatan-kegiatan seminar, diskursus mungkin mahasiswa juga. Itu saya pikir bisa terus kita lanjutkan,” pungkasnya.
Melalui dialog tersebut, penguatan wawasan kebangsaan diharapkan dapat terus menjadi bagian dari upaya bersama dalam membentuk generasi muda yang memiliki karakter kuat, berwawasan luas, tetap mencintai Indonesia, serta mampu berkontribusi dalam menghadapi tantangan masa depan. (CV)
Tidak ada komentar