Di Balik Meriahnya Pesta Durian Bintan 2026, Justru Ketua Panitia Menanggung Rugi Jutaan Rupiah

waktu baca 3 menit
Senin, 27 Jul 2026 19:17 0 admin
Views: 614

Bintan, dinamikaglobaltimes.id

Perhelatan akbar Pesta Durian dan Bintan Tracking 2026 yang berlangsung Minggu (26/7) di Lapangan Bola Gelora Bekapur, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan, usai dengan kemeriahan yang memukau ribuan pengunjung. Namun di balik kesuksesan acara yang mengangkat nama pariwisata Kabupaten Bintan itu, tersimpan kisah pahit dialami M. Ali – sosok yang juga Ketua Zuriat Bentan sekaligus penanggung jawab pelaksanaan lapangan.

Kegiatan tahun ini terbagi dalam tiga rangkaian utama: Bintan Tracking dan Festival Durian yang secara administratif menjadi tanggung jawab Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bintan, serta Kenduri Durian yang digagas dan dimotori langsung oleh M. Ali bersama komunitasnya. Ketiga rangkaian ini memiliki tujuan yang sama, yakni mempromosikan kekayaan alam dan potensi wisata budaya yang dimiliki Pulau Bintan.

Agar seluruh rangkaian berjalan lancar dan meriah, Ali tak segan melibatkan 52 warga setempat untuk membantu persiapan hingga pelaksanaan. Ia sendiri yang mengeluarkan dana pribadi untuk membayar upah sebesar Rp50.000 per orang kepada para relawan tersebut. Tak hanya itu, saat pasokan durian dari petani lokal mulai langka menjelang hari H, Ali kembali menggelontorkan uang pribadinya untuk membeli buah durian guna memastikan pengunjung tetap bisa menikmati kenduri.

Total dana yang ditalangi dari kantong pribadinya mencapai lebih dari Rp7 juta khusus untuk pembelian durian, ditambah biaya upah tenaga kerja warga. Padahal sejauh ini, belum ada tanda-tanda penggantian biaya dari pihak pemerintah daerah meskipun acara tersebut menggunakan nama resmi Pemkab Bintan dan diselenggarakan di bawah payung anggaran daerah.

“Iya benar, saya dipercaya menjadi ketua panitia pelaksana di lapangan. Saya berusaha maksimal agar acara ini sukses dan membawa nama baik daerah. Karena itu saya berani menalangi duluan, memberi upah Rp50 ribu per orang kepada warga yang membantu. Lalu beli durian juga pakai uang saya sendiri karena stok mulai menipis. Totalnya di atas tujuh juta rupiah lebih. Sampai hari ini, uang saya yang terpakai itu belum ada yang mengembalikan,” ujar Ali dengan nada kecewa, Senin (27/7/2026).

Kasus ini pun memancing kemarahan Ketua DPD AKPERSI Kabupaten Bintan, Martin Damanik. Menurutnya, kejadian ini sangat mencoreng citra penyelenggaraan kegiatan berbasis anggaran publik.

“Bagaimana mungkin bisa terjadi seperti ini? Acara ini kan membawa nama Pemkab Bintan, khususnya Disbudpar. Secara aturan, tanggung jawab anggaran ada sepenuhnya di dinas terkait. Apalagi Kepala Dinas sendiri sudah mengakui secara terbuka bahwa kegiatan ini menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Jangan sampai semangat gotong royong masyarakat justru dimanfaatkan untuk menutupi kelalaian administrasi atau keterlambatan pencairan anggaran aparat,” tegas Martin.

Redaksi hingga saat ini masih berupaya meminta tanggapan resmi dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bintan maupun jajaran keuangan dinas terkait untuk memberikan ruang jawaban atas tuduhan kelalaian penggantian biaya yang dialami panitia pelaksana. Jika dalam kurun waktu yang wajar tidak ada penjelasan, hal ini dikhawatirkan menjadi preseden buruk bagi partisipasi masyarakat dalam menyukseskan kegiatan pemerintah daerah ke depannya. (Richard).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA