Ngopi Tanpa Agenda, Puluhan Wartawan Tanjungpinang Rajut Kembali Persaudaraan Lintas Generasi

waktu baca 3 menit
Selasa, 20 Okt 2026 19:38 0 admin
Views: 616

Tanjungpinang, dinamikaglobaltimes.id 

Tanpa panitia, tanpa undangan resmi, dan tanpa agenda khusus. Sekitar 30 wartawan lintas generasi dan berbagai organisasi pers di Kota Tanjungpinang berkumpul secara spontan di Kedai Kopi Mie Tarempa, kawasan Batu 7, Selasa (20/10/2026). Satu-satunya alasan, sekadar ingin duduk bersama, ngopi, dan mempertahankan  silaturahmi.

Pertemuan hangat ini bermula dari percakapan sederhana. Saat berada di Kuala Lumpur, Malaysia, wartawan senior Kepri, Ady Indra Pawennari, menerima telepon dan pesan singkat dari sejumlah rekan wartawan yang mengajaknya ngopi bersama. Dan ketika ia kembali ke tanah air, tanpa ragu, ajakan itu langsung disambut dengan senyum sumringah.

“Ketika saya di Kuala Lumpur, ada kawan telepon dan kirim pesan, ajak ngopi. Saya langsung iyakan. Besoknya  saya pulang, ajakan ngopi itu saya laksanakan. Inilah wujudnya, “ujar Ady memulai ceritanya di tengah kerumunan rekan seprofesi yang sedang menikmati secangkir kopi.

Tanpa Sekat Organisasi, Tanpa Batas Generasi

Ajakan singkat itu ternyata membuahkan hasil. Puluhan rekan seprofesi tampak antusias hadir. Bahkan, dari mereka ada yang telah menggeluti dunia jurnalistik sejak tahun 1994 hingga wartawan angkatan 2026. Meskipun berbeda media, berbeda organisasi, namun semua duduk akrab berdampingan tanpa sekat.

Ady menegaskan, pertemuan ini murni kebersamaan antar sesama insan pers. Tidak ada kepentingan tersembunyi, tidak ada agenda tertentu.

“Saya ingin menegaskan, ini bukan kegiatan yang dipersiapkan khusus, apalagi bermaksud mendiskusikan hal-hal tertentu. Mohon tidak ditafsirkan ke mana-mana. Kita hanya ingin bertemu, bersenda gurau, menjaga hubungan baik antar kita, “kata Ady tegas.

Menurut Ady, terlalu sering pertemuan antar wartawan didorong urusan organisasi atau kepentingan kerja. Padahal, persahabatan sejati justru tumbuh di luar itu semua.

“Sejak awal keinginan saya sederhana saja. Bagaimana kawan-kawan bisa berkumpul semua, duduk bersama tanpa sekat. Tidak perlu lihat siapa dari media mana, siapa senior atau siapa junior. Kita semua adalah saudara yang dipertemukan oleh profesi yang sama, “tuturnya.

“Beda Pandangan Boleh, Tapi Jangan Hilangkan Jalur Silaturahmi”

Pagi itu, suasana di kedai kopi Tarempak terasa hangat. Tak ada podium, tak ada pidato. Hanya obrolan santai sambil mengenang perjalanan jurnalistik masa lalu. Tak hanya itu. Justru saling bertukar pengalaman, hingga membicarakan tantangan dunia pers di era teknologi yang terus berubah.

Ady menyampaikan harapannya yang tulus di tengah canda tawa rekan-rekannya.

“Kita mungkin tidak selalu sejalan dalam pandangan. Organisasi boleh berbeda, pilihan boleh tidak sama. Itu hal yang wajar. Tapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita lupa bersilaturahmi. Jangan sampai kepentingan sesaat menghilangkan persahabatan yang sudah puluhan tahun terjalin, “ujarnya lirih.

Ady mengaku terharu melihat antusiasme rekan-rekan yang hadir atas ajakan yang begitu sederhana dan mendadak.

“Alhamdulillah, keinginan kecil ini terwujud. Melihat wajah-wajah lama dan baru menyatu di sini, tertawa bersama, berbagi cerita tanpa sekat. Ini kebahagiaan tersendiri dan tak ternilai bagi saya. Semoga kebersamaan seperti ini terus terjaga, sebagai ruang yang terbuka bagi kita semua. Apa pun media tempat kita bekerja, “harapnya.

Pertemuan yang berlangsung sejak pukul 08.30 WIB itu, perlahan berakhir menjelang siang. Sederhana, tidak mencolok. Namun meninggalkan kesan mendalam, di tengah hiruk-pikuk dunia jurnalistik. Persaudaraan antar sesama insan pers ternyata bisa tetap hidup, dimulai dari ajakan sederhana. “Ayo ngopi bareng, “tutupnya sambil mengangkat gelas kopinya, mengajak rekan yang hadir saat itu. (***).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA