Lebih dari 4 Bulan Wabah Malaria di Desa Pengujan, 60 Warga Terserang, Penanganan Terbatas dan Pertanyaan Besar untuk Instansi Kesehatan

waktu baca 3 menit
Selasa, 27 Okt 2026 12:48 0 admin
Views: 622

Bintan, dinamikaglobaltimes.id

Kecemasan mendalam melanda warga Desa Pengujan, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Selama lebih dari empat bulan, desa ini dilanda wabah malaria yang terus meluas. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 60 orang warga telah terserang penyakit yang disebabkan parasit Plasmodium dan disebarkan nyamuk Anopheles tersebut.

Angka ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa wabah yang berlangsung berbulan-bulan belum tertangani secara menyeluruh ? Di mana peran Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan maupun Dinas Kesehatan Provinsi Kepri dalam menanggulangi wabah ini ?

Wabah Memburuk, Penanganan Terhenti

Kepala Desa Pengujan, Zulfitri, membenarkan situasi tersebut saat dikonfirmasi, Selasa (27/10/2026). Menurutnya, wabah ini pertama kali terdeteksi sekitar empat bulan lalu dan justru semakin meluas seiring berjalannya waktu.

“Iya memang betul. Sudah banyak warga yang terserang. Laporan yang saya terima, lebih dari 60 orang yang sudah terkena. Yang terbanyak di Dusun 1 dan Dusun 2. Kami punya datanya, “ujar Zulfitri.

Ia menjelaskan bahwa Dinas Kesehatan Bintan pernah melakukan penanganan awal berupa fogging dan memberikan himbauan kepada warga untuk mengurangi aktivitas di malam hari. Namun, kegiatan pencegahan tersebut tidak berlanjut.

“Dua bulan terakhir sudah tidak ada fogging lagi dengan alasan keterbatasan anggaran. Sekarang baru dilakukan fogging jika ada warga yang baru terdeteksi sakit, hanya di sekitar rumahnya saja, “jelasnya.

Artinya, upaya penanggulangan tidak dilakukan secara menyeluruh menyasar seluruh wilayah desa, melainkan bersifat reaktif dan terbatas, hanya setelah korban muncul.

Konfirmasi Terhambat, Tanggapan Minim

Berbeda dengan keterbukaan Kepala Desa Pengujan, upaya media ini menelusuri tanggapan resmi dari instansi kesehatan terkait menemui kendala.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan, Retno, saat dihubungi melalui pesan tertulis hanya menyampaikan janji singkat, “Waalaikumsalam, nanti akan diberikan jawaban, “katanya. Tapi, hingga berita ini ditayangkan, jawaban rinci maupun penjelasan resmi belum diterima.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Dr. Yosi, saat dikonfirmasi mengatakan, “iya, dinkes provinsi sudah mendapatkan laporan dan sudah berkoordinasi dengan
dinkes kab.bintan terkait adanya peningkatan kasus tersebut memang benar terjadi. Akan tetapi di Desa Pengujan kasus yang tercatat sekitar 97 kasus. Upaya-upaya penanggulangan pun sudah dilaksanakan seperti, survei darah masal, IRS, penaburan larvasida, pemetaan wilayah terdampak dan survei jentik, “ujarnya kepada media ini (27/10/2026).

Ditambahkannya, “di musim pancaroba seperti elnino ini, meningkatkan potensi terjadinya kasus malaria maupun DBD. Untuk itu saya menghimbau, selain peran Puskesmas, Dinkes Bintan
maupun Provinsi, masyarakat dapat menjaga kesehatan agar terhindar dari penyakit tersebut. Seperti minum obat malaria bagi penderita sampai tuntas, memakai lotion anti nyamuk, menghindari gigitan nyamuk serta tidak keluar pada malam hari dari 18:00 WIB sampai 6 pagi jika tidak ada kepentingan, “saran Yosi.

Kecemasan Warga dan Panggilan untuk Bertindak

Saat ini warga Desa Pengujan hidup dalam kekhawatiran. Serangan nyamuk penular malaria masih terjadi dan belum ada jaminan bahwa wabah akan segera mereda.

Secara prinsip, penanganan wabah penyakit menular adalah tanggung jawab utama pemerintah melalui instansi kesehatan. Keterbatasan anggaran memang sering menjadi alasan klasik. Namun ketika menyangkut nyawa dan kesehatan puluhan warga, apakah alasan tersebut cukup dapat diterima ? Apakah tidak ada jalur darurat atau dukungan lintas instansi yang dapat dikerahkan ?

Sudah saatnya Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan bersama Dinas Kesehatan Provinsi Kepri turun langsung ke lokasi. Wabah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Semakin lama penanganan tertunda, semakin banyak warga yang berisiko, dan biaya penanganan di masa depan justru akan semakin besar. (Richard).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA