Bintan, Dinamikaglobaltimes.id
Permasalahan sarana angkut (Bus Sekolah-red) siswa SMP di Kabupaten Bintan terus disorot. Hangatnya pemberitaan tentang Bus Sekolah itu, kini dilirik tokoh pemuda desa Pengujan bernama Martin. Pria yang juga pemerhati pendidikan di Bintan ini merasa miris membaca berita peristiwa tersebut.
Menurutnya, sarana angkut siswa SMP dan guru di Bintan yang menggunakan APBD tahun 2025 sebesar Rp.9.633.666.905,- yang terdiri dari 4 proyek yang juga disebut Paket Pengadaan Jasa Transportasi di dinas Pendidikan Kabupaten Bintan itu sarat dengan permasalahan. Untuk mengetahui lebih jauh, sudah waktunya Aparat Penegak Hukum (APH) di Kabupaten Bintan menelusuri proses pengadaan proyek tersebut. Apalagi biaya nya terbilang besar.
“Saya tertarik mengomentari berita tentang Bus Sekolah siswa SMP Negeri 7 Bintan itu. Apalagi sampai para orang tua merasa resah lantaran anaknya berjalan kaki ke sekolah, “paparnya di kilometer 16 arah Uban (16/10/2025).
“Saya sebagai tokoh pemuda di desa Pengujan ini menyarankan, agar segera diperiksa ulang proses tender proyek tersebut. Takutnya, ada sengkarut persoalan di balik proses lelang. Terus terang, saya sangat iba melihat siswa SMP itu pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Apalagi jarak rumah ke sekolah terbilang jauh, “paparnya.
Sebenarnya, lanjut Martin. Saat ini pemerintah sedang berpacu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) di negeri ini. Karena, tanpa SDM yang baik, mustahil negeri ini akan maju. Meskipun melimpah Sumber Daya Alam, tapi jika Sumber Daya Manusianya turun, maka tertinggal lah kita. Untuk itu, sangat disayangkan jika masih ada para pihak yang terkesan abai dalam memajukan pendidikan. Termasuk dalam hal memenuhi kebutuhan transportasi siswa, “beber Martin yang juga sebagai pemerhati pendidikan di Bintan.
Seperti pemberitaan terdahulu, orang tua siswa yang anaknya menuntut ilmu di SMPN 7 Teluk Bintan, selama ini diantar dan dijemput menggunakan Bus yang dibiayai oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan. Tapi, jadwal yang sebelumnya dua kali beroperasi dalam sehari, mendadak menjadi sekali saja sehari.
Tentu saja hanya sebagian siswa yang bisa diangkut. Sedangkan yang lainnya harus berjalan kaki ke sekolah maupun pulang sekolah. Tak jelas, kebijakan siapa ini. Pastinya, para orang tua yang anaknya berjalan kaki ketika pulang sekolah menjadi cemas. (Richard).
Tidak ada komentar