Bintan, Dinamikaglobaltimes.id
Gonjang-ganjing soal armada angkut siswa SMP di Desa Pengujan, Kecamatan Teluk Bintan kini kian menghangat. Tak sedikit orang tua siswa yang selama ini anaknya diantar dan dijemput Bus sekolah yang dibiayai Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan kini merasa kecewa.
Pasalnya, Bus Sekolah yang selama mengangkut siswa beroperasi dua kali sehari. Artinya, untuk mengangkut semua siswa yang jumlahnya lumayan banyak, Bus harus dua kali mengangkut siswa secara bergantian, supaya semua siswa bisa diangkut ke sekolah.
Namun belakangan, sistemnya mendadak berubah. Bus yang biasanya mengangkut dua kali, justru kini hanya sekali. Tentu saja banyak siswa yang harus berjalan kaki ke sekolah lantaran tak ada Bus yang mengangkut. Dampaknya, tak sedikit orang tua merasa resah. Apalagi perubahannya terkesan mendadak.
Salah seorang wali murid SMP Negeri 7 Bintan yang enggan menyebutkan namanya bercerita dan berkeluh-kesah tentang anaknya yang kini harus berjalan kaki pergi ke sekolah, “iya bang. Anak saya sekarang harus jalan kaki pergi ke sekolah. Soalnya, tak ada lagi Bus yang menjemputnya pergi ke sekolah, “keluh lelaki berusia empat puluhan ini di desa Pengujan (14/10/2025).
Hal senada juga disampaikan seorang ibu rumahtangga yang baru saja mengantar anaknya ke SMP tersebut. Wanita berbadan bongsor inipun mengeluh soal anaknya yang tak lagi dijemput Bus pergi ke sekolah, “oohh . . . Saya baru antar anak ke sekolah bang. Kalau biasanya, anak saya dijemput pakai Bus ke sekolah bang. Tapi sekarang Bus nya cuma satu trip saja beroperasi. Akibatnya, banyak anak-anak yang harus jalan kaki sekarang. Kenapa bisa gitu ya bang. Tolong lah kami ini bang. Biar anak kami bisa naik Bus lagi. Soalnya, jarak rumah kami ke sekolah itu lumayan jauh, “katanya mengeluh.
Mandeknya sarana angkut anak sekolah di desa tersebut diakui Budi Arjo ketika dikonfirmasi melalui ponselnya, “iya bang. Cerita itu memang betul. Sampai saat ini kami sedang berusaha untuk memulihkan keadaan supaya bisa kembali seperti semula. Kami juga sudah berupaya melobi penyedia barang. Kalau bisa, tak usah diberitakan lah bang, “pinta Budi memelas melalui ponselnya (15/10/2025).
Budi Arjo adalah Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) pada proyek berbiaya miliaran rupiah itu. Pertanyaannya, mengapa harus takut persoalan itu diberitakan. Tentu saja jawabannya Wallahu alam.
Dihari yang sama, pimpinan perusahaan yang memenangkan proyek tersebut, justru terkesan enggan menjawab konfirmasi yang dilakukan melalui layanan WA ke ponselnya. Sikap sang pengusaha ini justru menimbulkan asumsi miring terkait perubahan beroperasinya Bus pengangkut Siswa SMP 7 itu. Takutnya, ada hal yang ditutup-tutupi.
Dalam hal ini, Dinas Pendidikan sebagai Pengguna Anggaran (PA) harus bertanggungjawab atas kegaduhan yang sedang marak di kalangan orang tua yang anaknya sekolah di SMP tersebut. Apalagi bila ditelaah soal anggaran yang digunakan untuk pengadaan sarana angkut anak sekolah dan guru di Kabupaten Bintan. (Richard).
Tidak ada komentar