Ariastuty Sirait : BP Batam Tidak Butuh Media Penuh Pujian, Kritik Berbasis Data Justru Diperlukan

waktu baca 4 menit
Jumat, 28 Agu 2026 14:48 0 admin
Views: 632

Batam, dinamikaglobaltimes.id

Deputi Bidang Pelayanan Umum Badan Pengusahaan (BP) Batam, Ariastuty Sirait, secara tegas menegaskan komitmen lembaganya untuk membangun hubungan yang terbuka, setara, dan saling menghormati dengan insan pers. Poin paling mendasar: BP Batam tidak membutuhkan media yang hanya memuji, melainkan media yang tetap kritis, independen, dan profesional.

Pernyataan ini disampaikan dalam rangkaian silaturahmi yang digagas Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, yang secara khusus memperkuat komunikasi dengan para pemimpin redaksi dan insan media di Batam. Kegiatan ini bukan sekadar ajang perkenalan, melainkan upaya membangun ruang dialog yang jujur dan konstruktif antara penyelenggara layanan publik dan pengawas publik.

Silaturahmi Bukan untuk Membungkam Kritik

Ariastuty menegaskan bahwa inisiatif yang didorong Li Claudia Chandra sama sekali bukan untuk membatasi ruang kebebasan pers, melainkan justru membuka ruang komunikasi yang lebih cair dan berkelanjutan.

“Ibu Li Claudia ingin membangun komunikasi yang lebih dekat dengan media. Silaturahmi ini bukan untuk membatasi ruang kritik, tetapi justru membuka ruang dialog agar pemerintah dan media bisa saling mendengar dan memahami, “ungkap Ariastuty yang akrab disapa Tuty.

Menurutnya, hubungan yang dekat dan terbuka akan memberikan ruang bagi kedua belah pihak untuk saling bertukar informasi, menyampaikan masukan, serta memahami persoalan dari perspektif masing-masing, bukan untuk menjadikan media sebagai corong pemberitaan positif semata.

Kritik Diperlukan, Asal Berbasis Data dan Terverifikasi

Poin paling tegas disampaikan Tuty: pihaknya justru sangat menghargai media yang menjalankan fungsi kontrol sosial secara kritis. Kritik, menurutnya, adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan demokrasi dan menjadi bahan evaluasi paling berharga bagi pemerintah untuk berbenah. Namun, kritik yang disampaikan harus lahir dari proses jurnalistik yang kuat.

“Kami tentu ingin media tetap kritis. Kritik itu penting. Tetapi kritik yang kuat justru lahir dari proses jurnalistik yang kuat, ada verifikasi, ada konfirmasi, ada data, dan ada keberimbangan. Dengan begitu, kritik menjadi masukan yang konstruktif sekaligus memberikan informasi yang utuh kepada masyarakat, “tegasnya.

Tuty memperjelas batasan yang dimaksud: “Kami tidak membutuhkan media yang hanya memuji pemerintah. Kami membutuhkan media yang kritis dan profesional. Kalau kritiknya berdasarkan data dan melalui proses verifikasi serta konfirmasi, tentu itu menjadi bagian penting bagi pemerintah untuk berbenah.”

Komitmen Keterbukaan : Siap Memberikan Konfirmasi dan Penjelasan

Sebagai bentuk tanggung jawab timbal balik, Ariastuty menegaskan BP Batam juga berkomitmen memberikan akses informasi dan ruang konfirmasi yang memadai kepada media. Prinsipnya: jika ada informasi yang belum lengkap, data yang perlu dijelaskan, atau persoalan yang perlu diklarifikasi, pemerintah siap membuka diri.

“Ibu Li Claudia menekankan bahwa apabila ada informasi yang belum lengkap, silakan dikonfirmasi kepada pemerintah. Kalau ada data yang perlu dijelaskan, kami siap memberikan penjelasan. Begitu juga kalau ada kritik dari media, tentu itu menjadi bagian yang kami dengarkan dan evaluasi, “ujarnya.

Tuty berharap hubungan yang terbangun tidak bersifat reaktif, di mana media hanya hadir saat ada masalah, dan pemerintah hanya berkomunikasi saat butuh publikasi. Sebaliknya, komunikasi harus dibangun sejak awal: pemerintah menjelaskan kebijakan, media menyampaikan apa yang dirasakan masyarakat, dan keduanya saling memahami bersama.

“Kita ingin hubungan pemerintah dan media tidak hanya bertemu saat ada persoalan. Mari kita bangun komunikasi sejak awal. Pemerintah bisa menjelaskan kebijakan, media bisa menyampaikan apa yang dirasakan masyarakat. Dari komunikasi seperti itu, banyak hal bisa kita pahami bersama, “lanjutnya.

Tujuan Akhir : Ekosistem Informasi Publik yang Sehat

Bagi Ariastuty, tujuan akhirnya bukan sekadar menjalin hubungan baik secara permukaan, melainkan menciptakan ekosistem informasi publik yang sehat di Batam, di mana kritik dapat disampaikan secara profesional, pemerintah terbuka memberikan penjelasan, dan masyarakat menjadi pihak yang paling diuntungkan dari komunikasi yang berkualitas.

Pernyataan ini menjadi sinyal penting bagi dunia pers di Batam: keterbukaan bukan berarti kehilangan independensi, dan kedekatan bukan berarti kehilangan fungsi kontrol. Justru di sinilah letak kemitraan yang sejati saling menguatkan, saling mengoreksi, dan sama-sama bekerja demi kepentingan publik. (***).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA